Simulasi kebakaran disekolah untuk antisipasi dan pengetahuan siswa disekolah

Kebakaran saat simulasiKebakaran saat simulasi

 

Hari masih pagi,siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Surakarta, selesai berbaris dan masuk kelas. Kemudian berdoa dan seperti yang telah dilakukan sehari-hari sesudah berdoa adalah tadarus.Agar para siswa pun mendapatkan kebaikan dari membaca alquran yang dilakukan setiap hari.

                Membaca tadarus pun selesai saatnya para siswa memulai pelajaran. Masing-masing kelas sudah dengan programnya sendiri-sendiri mempelajari tematik, pelajaran agama atau bahasa. Namun hari itu sedikit aneh tidak ada siswa yang oleh raga di lapangan.Biasanya dipagi sesudah tadarus  itu pasti ada salah satu kelas yang berolah raga di lapangan sekolah, kemudian sambung-menyambung sampai siang bergantaian kelas. Kenapa hari itu tidak ada siswa berolahraga? Ada keanehan yang terjadi pagi itu. Begitu yang ada dibenak siswa yang biasa duduk di dekat jendela. Namun perasaan itu sudah dihapus sendiri karena mendahulukan kewajiban belajar yang lebih penting daripada memikirkan tidak ada suara siswa dan guru yang sedang berolah raga.

                Tiba-tiba “Taar Taaar dor door taar taaar!” dan asap sudah terjadi dimana-mana, bunyi sirine dan teriakan dari pengeras suara memohon para siswa di lantai 2 dan lantai 3 untuk turun melalui jalur-jalur evakuasi yang sudah ada tertempel di sekolah. Sirine terus berdering  “ kebakaraan, kebakaraaan”. Para siswa kaget tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suara teriakan untuk keluar melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul terus bergema. Namun kebingungan masih terus melanda siswa, ada yang menangis dan tidak bisa berjalan melewati jalur evakuasi dengan baik, maka harus digendong. Namun sebagian besar bisa melewati meski dengan bingung. Para siswa terus keluar berlari melaui jalur evakusi .

                Titik kumpulnya adalah di lapangan. Seluruh siswa SD Muhammadiyah 1 Surakarta sudah berkumpul dilapangan. Setelah semua sudah berkumpul, semua saling Tanya sambil menutup hidung untuk mengurangi asap yang terus mengepul. Akhirnya diketahui bahwa asap-asap itu adalah simulasi atau latihan bila menghadapi bencana kebakaran. Legalah akhirnya bahwa semua baik-baik saja.Dan akhirnya tawa lebar dan senyum mengembang di wajah-wajah para siswa Dari Kecil ke Besar

                Semua itu memang sudah direncanakan oleh pihak sekolah dengan Dinas Kebakaran Surakarta, untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa bila menemui kejadian bencana kebakaran. Agar siswa bisa memahami pentingnya upaya pencegahan kebakaran, terlebih lagi penanggulangannya. Bila kebakaran terjadi dan semua warga sekolah tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang kebakaran, maka situasi akan sangat kacau.Seperti yang terjadi pada pengalaman tadi.

 Lain bila para siswa sudah mengenal materi tentang penanggulangan bencana kebakaran maka semuanya akan tenang dan tidak panik dan menjalani solusinya dengan baik. Seperti saat itu instruktur dari dinas pemadam menerangkan bahwa  dalam hal kebakaran, yang terjadi adalah dari api kecil menjadi besar. Kebanyakan yang terjadi pada kebakaran adalah  kosleting aliran listrik, kelalaian, dan insiden tak terduga lalu  terjadi penjalarannya yang menyebar karena dibiarkan terlalu lama atau tidak ketahuan.

Ada yang menarik yang membuat terkejut bahwa ternyata kebakaran yang terjadi pada kompor gas adalah dengan mematikan regulatornya. Yang kedua dengan satu jari yaitu menutup lubang regulator lalu mematikannya. Bila regulatornya sudah terbakar, itupun tidak perlu panik. Ambil lap basah dan kerungkupkan pada tabung gas, dan diseret keluar. Ternyata ketenangan memberikan banyak manfaat.  

Baca juga : Tips mempersiapkan program studi dalam menghadapi assessment lapangan

                Setelah mendengar semua itu siswa baru sadar betapa pentingnya meningkatkan pengetahuan terutama perilaku sehari-hari agar mencegah dan menanggulangi kebakaran. Bencana memang selalu ada, itu bagian dari kehidupan yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar manusia selalu berusaha mencari pengetahuan yang tiada henti untuk, mengatasi, bertahan atapun membuat inovasi agar menjadi kemajuan dalam menjawab tantangan hidup. Manusia bisa maju dari tantangan yang diperolehnya. Hari itu memang tidak ada olahraga untuk sementara waktu karena dipakai dalam simulasi namun manfaat dan pengalamannya pasti tidak terlupakan oleh siswa. Pembelajaran seperti inilah yang diperlukan generasi kini.   

 

Ditulis oleh : Novi Saptina, Guru SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Jawa Tengah

               

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah