Bila Ingin Menjadi Mentor yang Baik, Perhatikan Beberapa Hal Ini!

Menjadi seorang mentor bagi orang lain memang tidak mudah. Sebab, mengurusi seorang manusia tidak sama dengan mengurusi kertas-kertas yang menumpuk.

Mengurusi seseorang perlu memiliki berbagai keahlian sosial. Salah sedikit, orang yang dimentori bisa terjerumus dalam perilaku yang keliru.

Akan tetapi, bila memahami fungsi utama menjadi seorang mentor, sejatinya mementori orang lain tidak begitu sulit. Bahkan, mementori seseorang akan menjadi suatu hal yang menyenangkan. Terlebih, bila orang yang dimentori dapat berhasil mencapai impiannya.

Untuk dapat menjadi mentor yang baik bagi orang lain, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Apa saja hal tersebut? Lebih baik simak tulisan ini dengan seksama!

Mentor Merupakan Tempat Bersandar

Mentor Merupakan Tempat Bersandar(dailysocial.id)

 

Perlu dipahami, seorang mentor pasti akan menjadi tempat bersandar anak didikannya. Untuk itu, mentor harus memiliki kelapangan hati.

Sebab, bisa anak didiknya akan mencurahkan segala permasalahannya. Mulai dari permasalahan sepele hingga yang besar.

Kelapangan hati perlu dimiliki seorang mentor agar mampu menampung segala persoalan si anak didik. Ia harus mampu menahan segala masalah dalam dirinya untuk dapat membantu anak didiknya.

Kelapangan hati juga diperlukan ketika saran atau masukan tidak sepenuhnya diterima oleh si anak didik. Perlu diingat, seorang mentor itu mengurusi manusia.

Ada kalanya, anak didik memiliki ego yang tinggi. Hal itu membuat saran dan masukan dari si mentor tidak diterapkannya.

Oleh sebab itulah, mentor harus bersabar dan tidak buru-buru memaksakan saran dan masukkannya ke dalam diri anak didiknya. Bisa fatal bila memaksakan hal itu meski itu demi kebaikan si anak didik.

Ketika ingin memaksakan suatu saran atau masukan positif, maka mentor harus melihat momentumnya. Salah pilih momentum bisa membuat si anak didik kabur dan tak lagi ingin terbuka.

Sebagai tempat bersandar, mentor harus menyiapkan waktu bagi si anak didik. Ia harus mengatur skala prioritas kegiatannya. Sebab, terkadang si anak didik memiliki keengganan untuk menceritakan masalahnya kepada orang tua.

Untuk itulah, kesadaran sebagai tempat bersandar perlu dimiliki oleh setiap mentor. Dengan begitu, ia mengerti bagaimana kondisi si anak didiknya.

 

Sabar, Sabar, dan Sabar

Sudah sedikit disinggung pada poin sebelumnya, ada kalanya anak didik tidak mendengarkan mentornya. Untuk itu, kelapangan hati sangat penting.

Mentor harus memiliki kesabaran yang tinggi. Bila perlu, kesabarannya harus tanpa batas.

Anak didik tidak akan memahami kapan waktu yang tepat untuk mencurahkan kegundahan isi hatinya. Untuk itu, perlu kesabaran untuk memberikan pengertian kapan waktu yang tepat untuk bercerita.

Selain itu, kesabaran diperlukan saat melihat perkembangan si anak didik. Perlu diingat, tiap anak didik memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Untuk itu, seorang mentor harus sabar dan menghargai tiap proses perkembangan anak didiknya. Jangan terlalu terburu-buru memaksa si anak berkembang atau berubah.

Kesabaran juga diperlukan saat melihat permasalahan yang tengah diceritakan. Terkadang, masalah yang diutarakan itu sangat sepele dan solusinya pun sederhana.

Namun, si anak didik itu tidak memahaminya dengan seksama lantaran berbagai alasan. Mulai dari egonya yang tengah tinggi hingga solusi itu memang tidak dipikirkannya.

Oleh karena itu, seorang mentor harus sabar dalam menuntun anak didiknya. Proses lebih penting daripada hasil.

 

Fokus Pada Melatih Mencari Solusi

Setiap persoalan yang datang kepada mentor dari anak didiknya tentunya dikarenakan mereka membutuhkan solusi. Untuk itu, mentor harus fokus pada melatih anak didiknya mencari solusi atas setiap permasalahannya.

Untuk melatih anak didik mencari solusi tentunya tidak sebentar. Perlu proses yang tidak cepat.

Selain itu, kembali mengingatkan, tiap anak didik memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Untuk itu, melatihnya harus dengan cara yang tepat.

Adapun, ketika mentor menjawab permasalahan dari si anak didik, perlu diingat, berikanlah pilihan solusi. Seorang mentor jangan memaksakan solusinya.

Biarkan si anak didik mengolah beberapa saran dan masukan solusi yang diberikan. Dengan begitu, ia bisa berpikir dan mengolah solusi yang sesuai dengan kondisinya.

Keluwesan mengolah solusi itu akan membuat si anak didik terlatih mencari solusi untuk tiap permasalahannya. Dengan begitu, ketika ia menghadapi masalah serupa, ia tak perlu lagi bergantung kepada si mentor.

Anak didik yang terbiasa dan terlatih mencari solusi dari suatu persoalan akan memiliki mental dan pemikiran luar biasa. Untuk itu, biasakanlah melatih anak didik untuk mencari solusi dari tiap permasalahannya, bukan terjebak pada lingkup masalahnya.

 

Berikan Tantangan Kepada Anak Didik

Bila ingin melihat perkembangan anak didiknya, si mentor harus memberikan tantangan yang tepat. Tantangan itu akan menjadi peranti bagi mentor melihat perkembangan dari si anak didik.

Tentunya, ketika memberikan tantangan, jangan asal-asalan. Perlu memperhatikan beberapa pertimbangan.

Pertama, perhatikan termin proses yang telah dilalui oleh si anak didik. Setiap proses yang sudah dilalui oleh anak didik maka perlu diuji. Kesulitan tantangan pun harus melihat termin prosesnya.

Jangan memberikan tantangan kepada anak didik yang baru saja dimentori tanpa alasan kuat. Sebab, hal itu akan membuat ia kabur dan tak lagi ingin bertemu.

Ketika memberikan tantangan, mentor jangan memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi. Hal itu hanya akan membebani anak didiknya.

Seandainya memang ingin menguji anak didik dengan tantangan berat, maka mentor harus memberikan ruang diskusi. Dengan begitu, anak didik dapat melaluinya dengan langkah tepat.

 

Jangan Terlalu Memanjakan Juga Jangan Terlalu Keras

Seorang mentor harus sadar betul bahwa ketika mengolah manusia harus seimbang. Jangan terlalu memanjakan dan juga sebaliknya, jangan terlalu keras.

Ketika terlalu memanjakan, anak didik akan terlalu bergantung. Hal itu akan membuat si anak didik tidak berkembang.

Begitu juga sebaliknya. Ketika terlalu keras, bisa-bisa mental si anak didik akan hancur sebelum berkembang.

Untuk itu, seorang mentor perlu bersikap bijak dalam mengolah anak didiknya. Ada kalanya memang perlu terbuka dan memanjakan. Namun, ada kalanya juga perlu keras.

Keseimbangan dalam pola mendidik akan berpengaruh besar kepada proses yang dilalui si anak didik. Untuk itu, bijaklah dalam bersikap kepada anak didik.

 

Jangan Berharap Balasan

Ya, seorang mentor jangan berharap balasan dari anak didiknya. Sebab, menjadi mentor merupakan laku keikhlasan.

Bila memang si anak didik dapat sukses, jangan berharap ia akan ingat diri kita. Lakukanlah dengan keikhlasan.

Percayalah, keikhlasan dalam membimbing seseorang pada dasarnya akan memberikan banyak kenikmatan. Baik itu secara badaniah maupun batiniah.

Perlu dipegang erat-erat dalam hati seorang mentor, ketika anak didiknya jauh lebih sukses maka dirinya sudah berhasil mendidik seseorang. Selalu percaya saja dalam hati, kebaikan yang kita sebar akan memberikan dampak positif yang tak dikira-kira.

 

Baca juga : 4 Perubahan pada diri supaya menjadi lebih baik

 

Itulah beberapa hal yang perlu dimiliki seorang mentor. Sebenarnya, masih banyak hal lain yang kiranya harus dimiliki seorang mentor.

Akan tetapi, hal itu akan dibahas pada tulisan yang lainnya. Perlu dicamkan dalam hati, menjadi seorang mentor perlu kelapangan hati dan keikhlasan yang tinggi. Jangan sampai terlalu berekspektasi dan jangan terlalu berharap lebih.

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis

Alumni Sastra Jawa UI, Penulis

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah