Cerpen- hujan dan april (part1)

APRIL

--Ternyata benar, 
pertemuan pertama itu menumbuhkan rasa penasaran,
sedang pertemuan kedua menumbukan rindu,
dan pertemuan-pertemuan selanjutnya
mampu menimbulkan candu.—

Bab I

Bertemu dengan senyum manis

Namaku Fano, aku adalah anak pindahan sari kota semarang. Aku baru sehari berada di kota bandung yang sejuk ini. Kota semarang kini menjadi rumah untukku, tidak hanya itu dari kota ini pula kisahku dan senyum manis itu di mulai. Ini adalah kisah tentangku dengan seseorang yang mengajarkanku betapa pentingnya mengucapkan I love you sebelum tidur. 

Alasanku pindah dari kota lamaku yaitu karena aku dan bunda harus menemani ayah untuk bekerja disemarang. Dan mau tidak mau aku dan bunda harus menerima keputusan itu. 

Hari ini cukup melelahkan karena aku, ayah dan bunda baru saja membereskan rumah baru kami.

Akhirnya ini adalah saat yang kutunggu kutunggu setelah sepanjang hari, yaa benar sekali makan malam adalah hal yang kutunggu tunggu sepanjang hari tadi. Terdengar teriakan bunda memanggilku turun untuk makan malam.  

 

“ Iya, bun fano segera turun.” Sahutku.

 

Terlihat ayah, dan bunda yang sudah menungguku untuk makan malam. 

 

“ Maaf menunggu lama.” Kataku meminta maaf

“Tidak apa, duduklah mari kita makan bersama.” Ajak ayahku. Kami pun makan malam dengan saat perasaan bahagia. Setelah beberapa menit, akhirnya makan malam pun habis. Dan aku pun langsung bergegas untuk kemar.

 

“Fano tunggu, ayah mau bicara. Duduklah sejenak” Kata ayah menahanku pergi.

“iya yah, ingin bicara apa?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

 

“kemarin ayah sudah mendaftarkanmu ke sekolah baru, dan mulai besok kamu sudah bisa belajar disana.”

“ ayah sudah mendaftarkanku? Kenapa ayah tidak memberi tahuku terlebih dahulu?” tanyaku kaget.

 

“jika ayah memberi tahumu, ayah tahu kamu akan menolaknya karena kamu ingin berlama-lama untuk berlibur, apakah benar pertanyaan ayah?”

“Tapi kan aku masih tidak ingin beradaptasi dan mengenal orang-orang baru yah”.

“kenapa begitu?”

“karna jika kita ingin berkenalan dengan orang baru kita harus menyesuaikan diri dengan mereka, sedangkan ayah tau aku ini adalah anak yang cukup sulit beradaptasi, jelas ini lebih sulit dari pelajaran fisika ayah” tegasku dengan sedikit perasaan jengkel. 

“Fano, kita itu harus beradaptasi dengan lingkungan secepat mungkin, bagaimana kita akan nyaman jika kita tidak mengenali lingkungan baru kita”.Jawab ayah.

“iya ayah, aku akan melakukan semua ini untuk kita.”

“besok ayah akan mengantarmu ke sekolah”.

“baik yah”. 

 

Setelah percakapan sengit itu usai, aku pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki dan bersiap untuk tidur. Aku pun berbaring diatas tempat tidur sambil sedikit melamun menatap langit langit karena teringat kata-kata ayah. Aku hanya takut jika aku sulit untuk beradaptasi di sekolah baru itu, tapi aku akan berusaha membuka diri dan menerima orang baru agar tidak mengecewakan ayah. Mataku sudah sayu memikirkan ini, dan tertutup perlahan. 

 

Suara jam alarm handphone ku berbunyi menandakan pagi telah datang dan pada hari itu saatnya aku untuk belajar mengenal orang-orang baru di sekolah. Aku pun langsung bergegas mandi dan menyiapkan semua peralatan sekolah yang dibutuhkan. Bunda yang berada dibawah sudah memanggil ku berulang kali untuk sarapan pagi.

 

“Fano ayo turun, makan paginya sudah siap” Teriak bunda. Aku pun turun dengan membawa tas ranselku. Kami pun sarapan pagi bersama. Hanya beberapa menit setelah sarapan, ayah langsung mengajakku untuk berangkat.

 

“Mari fano kita berangkat, kalau tidak kita bisa terlambat” jelas ayah.

“Iya ayo yah”.

 

Aku pun melangkahkan kaki untuk keluar rumah dengan penuh perasaan gelisah. Kami pun berangkat dengan menggunakan kendaraan pribadi milik kami. Di sepanjang jalan aku hanya menatap jendela yang dititupi dengan embun pagi. 

"Fano kenapa kamu melamun? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya ayahku

"Tidak apa yah, aku hanya ingin menatap jendela ini" jawab ku dengan sedikit lemas. 

Lama kelamaan aku mulai bosan dengan lamunanku itu. Aku mengambil permen yang berada di sakuku. 

Lampu lalu lintas bewarna merah ayahku menghentikan mobilnya. Ketika aku membuka jendela hendak membuang bungkus permen itu. Aku melihat seorang gadis berparas cantik dengan rambut panjangnya  yang terurai sedang berkendara dengan motornya. Dia sempat sebentar melihat ke arahku dengan tersenyum manis. Aku pun membalas senyum manisnya dengan senyuman juga. 

Rasanya tidak bisa berhenti menatap dia. Dia yang mencuri pandangan mataku hanya dalam waktu sekejap. Tak berselang lama lampu lalu lintas berwarna hijau lagi. 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar
akhi herman - Jan 14, 2020, 8:08 AM - Tambahkan Balasan

Mas, gimana caranya biar cerpen kita dimuat cepat?? aku sudah kirim ke web ini tapi kok belum diterbitkan ya??? apa ada yang salah/

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.
Ananda Nabielatul maghfiroh - Jan 14, 2020, 11:01 AM - Tambahkan Balasan

Memang begitu, saya sudah aploud 2 hari yang lalu tapi baru di terbikannya hari ini, karena dalam 2 hari itu masih dalam tinjauan

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.
Ananda Nabielatul - Jan 14, 2020, 11:11 AM - Tambahkan Balasan

Wow wow

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Jan 23, 2020, 4:04 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 16, 2020, 11:57 PM - ulfah aminatun
Jan 16, 2020, 2:31 PM - Lintang Dyah Puspita
Jan 15, 2020, 2:31 PM - Lilis Juwita
Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah