Cerpen : Tobatnya Sang Pecandu Narkoba

Seorang pria buta berjalan menyusuri gelapnya malam. Menapaki jalanan yang berliku, di kanannya sungai yang airnya tak terlalu deras, beberapa meter di kirinya jurang yang tak begitu curam.

Pria itu menerobos gelapnya malam demi memenuhi panggilan adzan. Mungkin baginya sama saja gelap ataupun terang, karena matanya hanya mampu melihat gelap.

Baginya sama saja berjalan di malam hari atau di siang hari, sama-sama menggunakan tongkat. Badannya masih terlihat tegap dan gagah meski sering keluar masuk rumah sakit.

Suaranya juga masih lantang penuh semangat, hanya matanya saja yang tak mampu melihat. Ya, dialah kini seorang yang mau menjalankan sholat, ketika penglihatannya tak lagi sehat.

Dialah dulu pria yang enggan sholat ketika matanya sehat. Masa lalunya begitu kelam dan begitu jauh dari Tuhan. Masa mudanya begitu hancur akibat salah dalam memilih teman pergaulan.

Dia yang dahulunya sangat tepat dikatakan anak badung dan sering melawan orang tua baik ketika duduk di bangku sekolah, ataupun setelah dia bekerja sebagai tukang parkir.

Pada suatu hari saat matanya masih bisa merasakan warna-warni dunia, dia pergi menemui ibunya.“Mbok, aku butuh uang, aku kesini hanya untuk itu, jadi cepat mbok beri aku uang,” kata pemuda itu saat suatu hari bertamu ke rumah majikan ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Kau ini bagaimana nak, baru minggu lalu kau minta uang sama si mbok, tapi hari ini kau minta lagi, dikemanakan uangmu itu?. Bukannya kau juga dapat gaji dari kerjaanmu sebagai tukang parkir?,” jawab ibunya setengah marah mendengar permintaan anak laki-lakinya itu.

“Ah, sudah lah mbok, jangan banyak tanya. Kalau si mbok tak mau memberiku uang, biar aku geledah saja kamar si mbok ini !,” jawab pemuda itu dengan kasar dan suara meninggi. “Jangan nak, jangan, itu uang tabungan ibu untuk berobat,” dengan menahan tangis ibu tua itu memohon pada anaknya.

 

Dahulu kehidupan pemuda itu, hanya ia habiskan untuk datang ke diskotik, mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba dan berpesta pora dengan teman-temannya. Hasil kerjanya terbuang sia-sia.

Bahkan karena sudah kecanduan dengan narkoba, ia tega merampas uang milik ibunya sendiri yang miskin. Ia tak pernah merasa kasihan pada ibunya yang sudah tua namun masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ayahnya yang juga sudah tua dan cacat.

Dalam keheningan ibu tua itu sering menangis, meratapi nasib anaknya. Ia hanya mampu mengadukan semuanya pada Yang Kuasa dan berharap ada keajaiban yang datang.

Kehidupan kota jakarta yang penuh hingar bingar telah menjerumuskan anaknya ke dalam lembah hitam pergaulan. Anak yang ia besarkan penuh dengan cinta, kini seperti orang asing.

Anaknya selalu berbuat kasar padanya, tak mau mendengarkan nasehatnya, tak peduli dengan air mata orang tuanya. Hanya ada miras dan narkoba dalam hidupnya, candu yang membuat dirinya semakin hari semakin tersiksa dan semakin gersang kehilangan kedamaian dalam dirinya.

Hingga suatu hari, terjadilah sebuah peristiwa yang membuatnya jera.“Maaf, selamat siang. Kami dari kepolisian ingin memberitahukan bahwa putra ibu kami tahan di kantor polisi karena mengonsumsi narkoba”, hati ibu tua itu hancur mendengar kabar yang mengejutkan dari kantor polisi.

Ia tak pernah menyangka putranya bisa berbuat seperti itu. Hanya doa yang bisa ia panjatkan agar putranya bisa segera bertobat.

Selang beberapa bulan dari peristiwa itu, pemuda badung itu bisa bebas dari tahanan dan memulai hidup barunya dengan menjauhi teman-temannya yang buruk.

Ia tinggal bersama ibunya dan akhirnya ia juga menemukan jodoh yang mau menerima keadaannya. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa bebas dari kebiasaan buruk mengkonsumsi miras dan narkoba.

Bahkan ketika ia mempunyai seorang anak, ia semakin ingin lepas dari narkoba, agar anaknya tak mengikuti jalan hidupnya yang buruk.

Di suatu pagi yang kelabu air matanya mulai menetes, entah itu air mata kesedihan atau kesakitan. Namun yang pasti hari itu adalah hari ia terakhir kali melihat cahaya, dan hari terakhir kali ia melihat warna-warni indah dunia.

“Mah, mataku sakit sekali kenapa ini mah, kepalaku juga kenapa sakit dari kemarin tak sembuh-sembuh.” “Ayah sudah minum obat, istirahatlah jangan terlalu capek,” jawab istrinya penuh perhatian sambil memapahnya untuk pergi berbaring.

Tapi tiba-tiba tubuh pemuda itu kejang-kejang dan tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai. “Yah, bangun yah, ayah kenapa, bangun yah !,” suara isakan yang berbaur dengan air mata ketakutan dan kecemasan keluar dari mulut istri pemuda itu, sambil terus mengguncang-guncangkan badan pemuda itu, namun ia masih saja tak sadarkan diri.

Dengan cepat istri pemuda itu memanggil ayahnya dan beberapa saudaranya untuk membawa pemuda itu ke rumah sakit.

Beberapa minggu di rumah sakit dokter telah memvonis pemuda itu menderita tumor ganas di mata. Keadaan itu membuat pemuda itu kritis dan kehilangan penglihatannya. Dan konon katanya semua itu akibat kebiasaan buruknya mengkonsumsi miras dan narkoba.

Walau keadaannya parah Tuhan masih mengijinkannya untuk sembuh dan bisa beraktifitas dengan normal. Walau ia harus berjalan dengan tongkat karena tak bisa melihat.

 

Sejak ia kehilangan cahaya pada penglihatannya, seolah Allah  memberi ganti dengan memberi cahaya hidayah pada hatinya. Cahaya Al quran dan sunnah yang tak semua orang bisa merasakannya.

Buta, aku rasa itulah yang terbaik, lebih baik ia buta matanya dari pada buta hatinya. Lebih baik ia kehilangan penglihatannnya dari pada terus berkubang dalam lembah dosa dan kehidupan hitam yang menyesatkan.

Kini, ia rajin datang ke majelis ta’lim tempat yang amat asing saat ia masih bisa melihat cantiknya dunia ini . Ia juga menjadi rajin sholat berjamaah di masjid, walau harus berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya.

Pakainnya yang dulu berantakan khas anak jalanan dengan bahan jeans yang penuh sobekan sana-sini, kini ia sesuaikan dengan sunnah memakai sirwal khas orang-orang sholih.

Topi khas remaja ia ganti dengan kopiah putih khas orang-orang bertakwa. Isi handphonenya yang dulu penuh dengan musik-musik metal, kini ia ganti dengan rekaman-rekaman ceramah yang menyejukkan. Bismillah, dia benar-benar ingin berhijrah.

Ia seorang yang buta, tak memiliki pekerjaan dan sering keluar masuk rumah sakit. Awalnya istrinya dengan sabar dan setia selalu mendampinginya. Namun tampaknya setelah sekian lama merasakan kondisi suaminya seperti itu, ia tak mampu bersabar lagi mengurus dan mencari nafkah untuk menghidupi suami dan anak-anaknya.

Akhirnya mereka bercerai. Kini pemuda itu memilih tinggal di panti sosial. Di panti, ia menerima kursus memijat bersertifikat, dengan keahliannya itu ia menjadi tukang pijat panggilan.

Dengan amat terpaksa ia harus rela berpisah dengan anak-anaknya yang tinggal bersama ibunya di rumah mantan bapak mertuanya. Kehidupan yang begitu sulit, kehilangan istri dan anak-anak tercinta yang selama ini selalu setia menemaninya.

Bahkan ia juga harus kehilangan kedua orang tuanya selama-lamanya karena penyakit yang mereka derita. Seolah cobaan dan ujian datang bertubi. Ia hadapi dengan tabah dan sabar.

Mungkin itulah cara Rabb semesta alam membersihkan segala dosa dan kejelekannya di masa mudanya dulu. Adanya musibah akan menjadikan dia hamba Allah yang semakin bertaqwa, semakin tinggi kedudukannya dan semakin dekat kepada Rabbnya.

Seorang pemuda berjalan perlahan menuju masjid, kadang ia terpelesat dan hampir jatuh ke sungai. “Mas hati-hati, mari kami bantu,” beberapa yang iba membantu pemuda itu untuk sampai ke masjid dengan selamat. “ Jazakumulloh khoir, semoga Allah membalas kalian semua dengan kebaikan”.  

Andai ia tak buta, ia tak pernah memegang cahaya hidayah seperti sekarang ini. Andai ia tak buta, ia tak akan pernah bisa menobati perbuatannya yang gemar meminum minuman keras dan mengonsumsi narkoba.

Maka kawan marilah kita bersegera untuk kembali kepada Allah, kembali kepada ajaran islam yang agung. Jangan sampai ketika kita kehilangan panca indera kita baru kita menyadari kedzoliman kita dan bertobat dari kesalahan-kesalahan kita.

Jangan menunggu Allah menghancurkan kita baru kita kembali untuk taat. Jangan menunggu, kita kehilangan milik kita yang berharga, jangan menunggu kita kehilangan orang-orang yang kita cintai baru kita rujuk kepada Al Quran dan As Sunnah. Jangan sampai tobatmu datang terlambat, ketika azab datang mendekat.

Jangan pernah marah, sungguh jangan pernah marah, jika seseorang mengatakan kepadamu “Semoga Allah memberimu hidayah.” Meskipun engkau seorang yang alim, meskipun engkau orang yang sudah memeluk hidayah.

Karena semua orang membutuhkan hidayah. Karena hidayah bisa lari jika ia tak dijaga. Ya, semua orang membutuhkan hidayah, bahkan ketika ia sampai pada jarak yang amat dekat dengan taman-taman hidayah, namun ia tak akan sampai di taman itu.

Ia tak akan  masuk menikmati indahnya taman hidayah, ketika Tuhan tak menakdirkannya untuk memperoleh hidayah. Maka, carilah ia, kejarlah ia. Jangan pernah menunggu hidayah datang menyapamu.

Maka mintalah ia, mintalah hidayah kepada Rabbmu. Mintalah kepada Rabbmu agar hidupmu selalu dipenuhi taman-taman indah penuh hidayah, agar kau bisa memegang hidayah islam hingga sakaratmu datang meminang.

Semoga Rabb semesta alam selalu melembutkan hati-hati kita untuk menerima indah hidayah.

 

 

 

 

 

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis

Abadikan sejarahmu dengan menulis

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 5, 2020, 4:29 PM - Harti Susanti Apriliani
Jan 19, 2020, 4:07 AM - andreas waluyo