Ini 5 Tipe Mahasiswa Dalam Organisasi Kampus

Kehidupan perkuliahan kiranya penuh dinamika. Selain belajar, para mahasiswa memiliki opsi untuk mengembangkan diri melalui berbagai organisasi kampus.

Mulai dari organisasi intra kampus hingga organisasi ekstra kampus. Berbagai pilihan organisasi untuk berkegiatan dan berkreasi itu tentunya banyak manfaatnya.

Tiap organisasi itu kiranya diisi oleh beragam tipe mahasiswa. Tipe-tipe mahasiswa itu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Pada artikel ini akan dibahas beberapa tipe mahasiswa, baik dari keunikan, kelebihan, hingga kekurangannya. Silakan disimak!

Gambar Mahasiswa Dalam Organisasi Kampus(ukdc.ac.id)

 

Konseptor

Mahasiswa tipe konseptor merupakan mahasiswa yang selalu memiliki ide brilian. Ia bisa melahirkan banyak konsep-konsep kreatif untuk membuat kegiatan.

Biasanya, mahasiswa tipe ini akan memiliki banyak referensi kreatif dalam mengkonsep suatu kegiatan. Mulai dari hasil bacaan, tontonan, hingga seringnya mengikuti berbagai macam kegiatan untuk “studi banding.”

Mahasiswa konseptor pun memiliki ide-ide fresh yang jarang dipikirkan oleh mahasiswa tipe lainnya. Ide-ide itu lumrahnya memudahkan ia ketika harus membuat konsep acara yang unik dan menarik.

Meski demikian, tipe konseptor biasanya memiliki kelemahan dalam mengeksekusi idenya. Sulit untuk beradaptasi dengan “kejadian luar biasa” ketika acara terjadi.

Selain itu, biasanya, mahasiswa konseptor kerap terlalu detail dengan konsepnya. Sehingga, kadang sulit untuk beradaptasi dengan kondisi teknis persiapan acara tanpa survei terlebih dahulu.

 

Teknikal

Berkebalikan dengan tipe konseptor, mahasiswa tipe teknikal merupakan mahasiswa yang memiliki keunggulan dalam kinerja teknis lapangan. Mahasiswa tipe ini akan mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan yang berbeda dari konsep kegiatan.

Mahasiswa tipe teknikal juga memiliki kelebihan dalam pekerjaan kasar. Artinya, ia memiliki tenaga yang lebih besar dan terbiasa untuk melakukan kerja lapangan.

Bahkan ada beberapa mahasiswa tipe teknikal sudah sangat terbiasa menggunakan alat-alat pertukangan hingga mengerti sedikit tentang kelistrikan. Bisa dikatakan, tipe teknikal ini sisi kreatifnya dalam membuat barang fisik.

Akan tetapi, mahasiswa tipe teknikal biasanya sulit untuk membuat suatu konsep secara detail. Sebab, mahasiswa tipe ini lebih unggul dalam menerjemahkan ide ketimbang mencetuskannya.

Tipe teknikal ini akan lebih memilih menjadi pelaksana konsep ketimbang membuat konsep. Apalagi, bila konsepnya kompleks.

 

Badut

Di dalam sebuah kelompok atau perkumpulan, pasti ada orang bertipe ini. Ya, dalam organisasi mahasiswa pasti ada mahasiswa bertipe badut.

Maksud dari tipe badut ialah mahasiswa yang memiliki rasa humor tinggi dan biasa menghibur kawan-kawannya. Sebab, kelebihan utama mahasiswa tipe badut ialah melucu. Ia bisa menghibur kawan-kawannya dalam berbagai macam cara.

Bisa berupa candaan receh, tingkah laku random, stand up dadakan, dan lain sebagainya. Banyak hal yang bisa dilakukannya untuk memancing tawa kawan-kawannya.

Keberadaan mahasiswa badut ini bisa menjadi pemecah ketegangan dan stres tatkala tengah mempersiapkan suatu kegiatan. Tak hanya itu, terkadang, keberadaan si badut dapatkan memberikan inspirasi unik bagi tipe konseptor.

Meski demikian, ada kalanya keberadaan mahasiswa bertipe ini malah memperkeruh suasana. Hal itu bisa terjadi tatkala ia melucu di saat yang tak tepat.

Selain itu, keinginan tipe badut menjadi pusat perhatian dapat menyebabkan kinerjanya tidak maksimal. Hal itu sudah barang tentu mengganggu kesempurnaan pelaksanaan acara.

Baiknya, mahasiswa tipe badut ini harus bisa melihat situasi dan kondisi. Agar, leluconannya dapat dipahami oleh kawan-kawannya.

 

Angin

Ya, dalam suatu organisasi ada mahasiswa tipe angin. Tipe ini bukan seperti elemen dalam anime. Namun, mahasiswa tipe angin lebih kepada mahasiswa yang datang dan perginya tidak diketahui, laiknya angin.

Kelebihan dan kekurangan mahasiswa tipe ini samar terasa. Sebab, keberadaannya dalam organisasi terkadang tak terasa.

Mahasiswa tipe angin terlihat seperti bukan anggota organisasi mahasiswa. Tapi, ketika ada kegiatan atau acara, mahasiswa tipe ini tiba-tiba datang dan menjadi panitia.

Kondisinya itu bisa disebabkan oleh berbagai macam sebab. Mulai dari kesibukannya di luar kegiatan kuliah, memiliki pekerjaan sampingan, dan beragam kondisi lainnya.

Kelebihan yang bisa dirasakan oleh mahasiswa tipe angin ialah keberadaannya sangat membantu saat pelaksanaan kegiatan. Tambahan tenaga dari mahasiswa tipe ini sangat meringankan beban pekerjaan.

Tak hanya itu, tipe angin lumrahnya ikhlas untuk dimintai tolong melakukan serangkaian pekerjaan. Hal itu dikarenakan dirinya merasa ingin lebih berarti bagi organisasi.

Adapun, mahasiswa tipe angin juga dapat dimintai saran terhadap suatu persoalan yang tengah menimpa organisasi. Pendapat atau pandangannya akan memberikan perspektif berbeda sehingga bisa lahir solusi untuk mengatasi masalah itu.

Meski demikian, lantaran keberadaannya yang antah berantah, mahasiswa tipe angin memiliki kekurangan. Hal yang paling terasa ialah perihal kepekaan terhadap kondisi organisasi.

Mahasiswa angin sulit merasakan gejolak yang tengah terjadi dalam organisasi. Hal itu lantaran ia jarang hadir. Selain itu, ia kerap ketinggalan informasi mengenai perkembangan organisasi.

Keberadaannya bak angin membuatnya sulit pula beradaptasi cepat dengan kawan-kawan di organisasinya. Walau demikian, keberadaan mahasiswa angin memberikan warna tersendiri terhadap suatu organisasi.

 

Struktural

Satu lagi tipe mahasiswa yang biasanya ada dalam suatu organisasi yaitu tipe struktural. Mahasiswa tipe struktural ialah mahasiswa yang dalam gerak berorganisasinya sangat kaku dan mengikuti aturan-aturan keorganisasian.

Mahasiswa tipe ini biasanya sangat ketat terhadap aturan organisasi. Saking mengacu pada aturan, ada kalanya, tipe struktural ini sangat hafal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Kondisi tersebut membuatnya menjadi acuan kawan-kawannya terkait peraturan-peraturan organisasi yang bisa digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Ia pun menjadi penjaga alur kerja yang baik.

Mahasiswa tipe struktural pun kerap memudahkan tipe konseptor dan teknikal saat bekerja. Sebab, kepeduliannya terhadap kinerja organisasi yang baku membuatnya mampu memberikan arahan sesuai aturan, baik aturan di dalam organisasi maupun aturan di kampus.

Hal itu membuat tipe konseptor dan teknikal tidak melanggar aturan yang ada. Meski begitu, tipe struktural lumrahnya mahasiswa yang amat kaku. Ia tidak bisa luwes dalam menghadapi masalah.

 Kekakuannya itu lantaran ketergantungannya terhadap suatu aturan baku. Hal itu membuatnya sering risih ketika kawan-kawannya mengambil tindakan di luar aturan baku organisasi.

Selain itu, tipe struktural terlalu patuh kepada otoritas jabatan dalam suatu organisasi. Ia sangat takut melangkahi kawannya yang memiliki jabatan di dalam organisasi.

Baca juga : 5 Alasan kenapa kamu harus suka sejarah!

Demikianlah beberapa tipe-tipe mahasiswa dalam suatu organisasi kemahasiswaan. Sebenarnya masih ada tipe-tipe lain yang perlu dibahas. Hanya saja, akan dibahas pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat tulisan ini!

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis

Alumni Sastra Jawa UI, Penulis

Artikel Populer
Jan 5, 2020, 4:29 PM - Harti Susanti Apriliani
Des 31, 2020, 6:13 AM - Mardiana
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 27, 2019, 4:00 AM - Istainu