Cerita fiksi - Kado untuk pernikahan suamiku

KADO UNTUK PERNIKAHAN SUAMIKU

 

[Merelakanmu]

 

Aku tertegun menatap surat undangan pernikahan atas nama suamiku dan calon istrinya.

sedih? Iya. Sakit? Tidak.

Karena aku sudah lebih dulu mendamaikan jiwaku, menata ruang hati, untuk bisa menerima wanita baru dalam kehidupan suami, walau ternyata butuh waktu tiga ratus enam puluh lima hari bagiku menata perasaan ini.

Menata perasaan dan pikiran bahwa kedepannya di rumah tanggaku akan ada seorang perempuan lain, perempuan yang nantinya Ia akan sejajar denganku. Entah itu porsi nafkah lahir atau batin. Walau sesungguhnya butuh waktu setahun bagiku untuk menerima semua kenyataan ini.

Sadar diri bahwa 11tahun menikah aku tak kunjung memberikan buah hati pada suami dan keluarganya.

Maka aku pun pasrah jika harus dipoligami.

Berat, itu awalnya. Tapi Islam selalu punya solusi untuk semua permasalahan. Mungkin jika suamiku menikah lagi ia akan mendapatkan keturunan yang diharapkan ibu mertuaku.

Belajar legowo saja, lagi pula aku hanya menunggu bulan tuk pergi dari kehidupan suami dan keluarganya.

Karna kanker serviks ini menggerogoti tubuh ku pantas saja aku ta kunjung hamil.

 

 oh takdir aku sudah pasrah pada semua hal. Bahkan pada kematian ku.

Setidaknya selama 11tahun ini Allah  memberiku seorang suami yang hebat, yang begitu mencintaiku tanpa syarat. Bagi yang melihat kemesraan kami, mereka bilang kami adalah ibarat pasangan pengantin baru. Mesra selalu.

 

 Bahkan setelah di desak setahun oleh  keluarganya untuk berpoligami pun suamiku tetap menunggu kata siap dariku, itulah ia, selalu menjaga perasaan ini.

Oh Alloh, aku ingin tetap bersamanya hingga ke surga kelak menjadi jodohnya yang abadi. KarenaKarena akhlaknya permata bagiku.

Aku baru mengatakan siap setelah butuh waktu dua belas bulan untuk mengelola hati. Meyakinkan diri untuk siap berbagi.

 

Dan kini undangan tengah di sebar pada seluruh teman dekat, tetangga dan orang yang dianggap penting hadir. 

Sebagian ada yang memuji untuk ketangguhan jiwa ini, namun tak jarang juga sebagian ada yang iba dan mengkritik bahwa poligami adalah pilihan bodoh untuk wanita muda sepertiku, karena mereka tidak tahu apa

 

Aku menghela napas panjang, ku ajak calon maduku bertemu, kutatap wajah calon istri suamiku, cantik dan agamis. Dia terlihat malu-malu ketika kami bertemu, entah karena ia merasa bersalah atau memang sikapnya pemalu.

 Akh, aku justru bersyukur sebelum kepergianku dari dunia telah ada pengganti istri yang baik bagi suamiku.

 

Akh, dasar memang suami yang shaleh, Allah pun sudah  menyiapkan pengganti ku yang lebih baik, bahkan sebelum jasadku yang lemah ini terkubur.

Aku ikhlas jika seandainya suamiku harus menikahi wanita lain, terlebih jika wanita itu lebih baik dari diri ini, entah dari segi agama atau dari gama.

 

Aku tidak pernah bercerita pada suamiku  bahwa aku memiliki penyakit kanker serviks yang ternyata mengendap di enam tahun pernikahan. Dimana suamiku berhenti memeriksakan rahimku.

Iya, sungguh ironis. Mengapa penyakit itu tiba di saat kami berhenti memeriksakan keadaan diri kami.

 

Alasan kenapa ku rahasiakan penyakit ini, karena akupun baru mengetahuinya di usia pernikahan ku ke sepuluh. Aneh memang, tapi kata dokter, ada sebagian orang yang jenis daya tahan tubuhnya sangat bebal dan kuat, seolah ketika ia sakit ia sudah memiliki pasukan sel khusus yang melindungi Anti body nya dari virus atau penyakit lainnya.

Subhanallah, maha suci Allah atas segala kemurahannya pada ciptaanNya tentang mahluk yang diciptakannya, bahkan sepintar apapun seorang dokter ia tak akan mampu menciptakan sesuatu yang setara dengan ciptaan Allah, semisal jantung atau darah, mustahil ada yang mampu membuat hal serupa dengan setara. Allohu Akbar.

Kini, diri semakin pasrah dan semakin terarah untuk lebih banyak beribadah, diri ini masih enggan memberitahukan kepada suamiku tentang apa yang terjadi dengan rahimku. Lagipula jika suamiku tahu, wah bisa-bisa aku akan semakin jadi ratu bagi suamiku, ia pasti akan semakin memanjakan istri tercinta nya yang sekarat.

 

tak terbayang pula sikap ketus mertuaku yang sudah hilang ramahnya sejak tahun pernikahan ku ke lima. Terkadang aku malu atas sikapnya yang terlalu memanjakan diri ini, malu pada mertuaku yang mungkin merasa bahwa putranya telah kurebut kasih sayangnya dan perhatiannya. Tapi jika dipikir memang benar aku adalah perebutnya, karena ibunya yang melahirkannya, merawatnya, mendidiknya, menyekolahkan nya, dan saat itu telah berhasil malah aku sebagai istrinya yang memanennya, itu memang ironis. Tapi itu qadarrulahNya, sunnatullahNya.

 

 Namun yang paling ku sedihkan adalah ketika satu harapan mertuaku yang belum terwujud, maka terkadang mertuaku bersikap dingin, tapi aku terima, karena seorang ibu pasti mengharapkan seorang cucu dari putranya. Dan aku justru hanya seorang istri yang memiliki penyakit kanker serviks yang menjalar ditubuh ku, bukan bayi

 

Kini, aku tinggal menanti sang izroil menuntun ku keharibaan Nya .

Akupun lebih banyak beribadah lagi, mengingat kata dokter usia ku tinggal menghitung bulan.

Benarkah itu? Entahlah. Karena kematian mutlak ditangan Tuhan.

 

Ya Allah ya Rabb, hanya kepadaMu lah semua ku pasrahkan segala urusan diri ini. Semoga dibalik duka ini Engkau hadiahi bahagia setelahnya. Laksana pelangi indah yang muncul setelah hujan.

Baca juga : Cerpen - hujan dan april (part1)

Aku percaya, bahwa apa yang benar-benar kita pinta akan Allah kabulkan, ia bisa memberinya sekarang, nanti setelah kita siap, atau diakhirat.

Aku pun percaya bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita harapkan bahkan memberi lebih 

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Jan 23, 2020, 4:04 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 16, 2020, 11:57 PM - ulfah aminatun
Jan 16, 2020, 2:31 PM - Lintang Dyah Puspita
Jan 15, 2020, 2:31 PM - Lilis Juwita
Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah