Ketahui Lima Ciri Hoaks Agar Tidak Tertipu Saat Bermedia Sosial dan Berinternet

Era digital saat ini setiap orang dapat dengan mudah mengakses informasi. Begitu banyak informasi tersaji di internet. Apalagi, kini setiap orang pun dapat dengan mudah memproduksi informasi dan menyebarkannya melalui media sosial.

Akan tetapi, kondisi itu menyebabkan internet dan media sosial banjir informasi. Terlebih, di antara informasi itu pasti ada konten-konten hoaks. Lantaran kondisi banjir informasi itu, kiranya ada saja yang sulit membedakan antara informasi yang benar dengan hoaks.

Sebenarnya, membedakan konten hoaks dengan informasi yang valid sangat mudah. Ada beberapa ciri yang kiranya bisa diperhatikan dalam sebuah konten. Berikut beberapa tips yang bisa diaplikasikan guna membedakan antara konten hoaks dengan konten dengan informasi yang benar! 

Ada Upaya Ajakan Untuk Menyebarkan Konten

Salah satu ciri yang dapat diperhatikan untuk memperhatikan suatu konten berpotensi hoaks ialah dengan melihat narasinya. Ketika dalam narasi tersebut terdapat ajakan untuk menyebarkan konten tersebut, maka konten tersebut perlu diwaspadai.

Sebab, sebagian besar konten hoaks selalu mengajak seseorang untuk menyebarkannya. Mulai dari pilihan kata ‘viralkan, ‘sebarkanlah’, ‘beritahu keluarga/saudara/teman’, ‘jangan berhenti di kamu’, dan lain sebagainya ada dalam konten hoaks.

Alasan utama yang bisa dipahami mengapa ada pilihan diksi ajakan itu ialah untuk membuat konten itu dapat menyebar luas. Dengan begitu, akan terjadi konten hoaks itu seolah-olah berisikan informasi penting yang harus diketahui oleh semua orang.

Tak ayal, ajakan untuk membagikan tak berupa diksi. Ada kalanya, ajakan itu bagian dari narasinya yang berisikan teror dan menebar ketakutan kepada penerima konten hoaks.

Untuk itulah, ketika ada bagian yang berisikan ajakan membagikan suatu konten maka perlu waspada. Bisa jadi, konten tersebut adalah hoaks.

 

Klaim Berlebihan dan Terkadang Tidak Masuk Logika

Masih seputar narasi konten hoaks. Lumrahnya, narasi konten hoaks akan berisikan klaim berlebihan. Saking berlebihannya, terkadang klaim itu tidak masuk ke dalam logika.

Salah satu contohnya ialah saat terjadi fenomena gerhana matahari. Setiap akan terjadi fenomena gerhana tersebut kerap dibarengi dengan munculnya narasi-narasi tak masuk akal.

Saat fenomena alam itu terjadi, muncul narasi yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh keluar rumah kala gerhana lantaran dapat mempengaruhi kondisi janinnya.

Faktanya, gerhana matahari tidak mempengaruhi kondisi janin pada ibu hamil. Adapun, gerhana matahari hanya akan memberikan dampak negatif kepada seseorang yang melihatnya dengan mata telanjang.

Kondisi tersebut disebut sebagai retinopati surya. Kondisi itu terjadi ketika terlalu banyak sinar ultraviolet (UV) yang masuk ke retina dan akhirnya merusak mata.

Klaim berlebihan itu merupakan salah satu contohnya. Masih banyak klaim-klaim konten hoaks lainnya yang tak kalah jauh dari logika.

Untuk itu, perlu menggunakan nalar ketika memahami suatu informasi yang beredar. Jangan sampai, klaim berlebihan dalam konten hoaks merasuk dan membuat diri menyebarkannya tanpa sadar.

 

Gambar atau Video yang Provokatif

Konten hoaks tidak hanya berupa teks narasi semata. Ada pula konten hoaks yang berupa gambar atau video.

Biasanya, konten hoaks semacam itu merupakan hasil manipulasi gambar atau video. Bahkan, ada yang merupakan hasil pelintiran dari konteksnya.

Adapun, gambar atau video tersebut dikemas sedemikian rupa secara provokatif. Hal itu tentunya bertujuan untuk memancing emosi orang yang melihatnya.

Metode semacam itu biasanya digunakan untuk menipu orang-orang yang tidak paham konteks suatu peristiwa secara utuh. Apalagi, bila isu yang tengah diangkat dalam konten tersebut tengah hangat.

Untuk mengatasi hal semacam ini, perlu kiranya mencari gambar atau video pembanding dari konten yang tersebar. Cara paling sederhana ialah dengan menggunakan Reverse Image Tools.

 

Judul yang Bombastis

Ketika melihat sebuah tautan, hal pertama yang sering menjadi pertimbangan untuk menekan tautan itu ialah judulnya. Dari sebuah judul, rasa penasaran dapat terusik dan alam bawah sadar pun menyuruh untuk membukanya.

Sayangnya, judul sebuah tautan terkadang tidak sesuai dengan isi kontennya. Hal itulah yang sering ada dalam sebuah konten hoaks berupa tautan link.

Judulnya begitu bombastis sehingga menggugah seseorang untuk membukanya. Padahal, dari segi konten isinya tidak ada kaitan dengan judul.

Terkadang, dari judul tersebut juga seseorang tidak membuka tautannya dan langsung membagikannya. Kebiasaan itu membuat pembuat konten hoaks bahagia. Sebab, ketika tautannya dibagikan secara masif, maka keuntungan ekonomi yang direngkuhnya semakin besar.

Tak hanya itu, semakin luas tersebar konten hoaks itu, maka pembuat hoaks akan semakin berhasil menguasai  media sosial. Oleh sebab itulah, harus berhati-hati dengan judul yang bombastis.

 

Tidak Menyebutkan Sumber yang Jelas

Kerap kali, konten hoaks tidak berasal dari sumber yang jelas. Bahkan, ada saja konten hoaks yang hanya mencantumkan sumber berasal dari “grup sebelah.”

Tak jarang, sumber informasi diklaim berasal dari portal media. Namun, ketika dicari, ternyata tak ada artikel yang memuat informasi tersebut.

Selain itu, konten hoaks sering mencatut nama ahli atau pakar. Padahal, ahli atau pakar tersebut tidak pernah membuat atau menyebarkan informasi yang ada dalam konten hoaks tersebut.

Untuk itulah, ketika menerima informasi, perlu dikritisi dari mana asal informasi tersebut. Perlu sekali mencari sumber utama dari informasi yang beredar. Jangan sampai, menelan mentah-mentah suatu konten yang lewat di linimasa media sosial.

Baca juga : Cara dapatkan ratusan ribu perhari selain dari adsense, simak caranya disini!

---

Demikianlah beberapa ciri konten hoaks yang bisa diperhatikan. Untuk dapat membedakan suatu konten hoaks dengan fakta sebenarnya tidak terlalu sulit.

Cukup membiasakan diri kritis terhadap berbagai macam konten yang bermunculan di linimasa media sosial atau sampai melalui aplikasi pesan, semacam Whatsapp, Line, Telegram, dan lain sebagainya. 

Sikap kritis itu kiranya dapat menyelamatkan diri dari potensi tertipu konten hoaks. Selain itu, perlu diingat, ketika membagikan suatu konten perlu disaring terlebih dahulu. Saring Before Sharing!

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis

Alumni Sastra Jawa UI, Penulis

Artikel Populer
Jan 5, 2020, 4:29 PM - Harti Susanti Apriliani
Des 31, 2020, 6:13 AM - Mardiana
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 27, 2019, 4:00 AM - Istainu