Lilin, asa dan Si kelam

Di pinggir emperan terdapat pedagang-pedagang kecil berkawan kan lilin. Bergulat dengan Si kelam. Beradu dengan mata yang menuntut haknya, angin malam tiada henti berusaha menggoyahkan tekadnya. Tubuh pun ringkih meminta tuk berebah di kasur empuk yang realitanya hanya beralaskan lembaran-lembaran koran saja. Mereka rela terjaga sepanjang malam, daripada melihat anak dan istrinya kelaparan di esok hari, mengingat banyak kewajiban yang harus ditunaikan memilih enggan merutuki nasib.

 

– – – – – –

 

Mereka bernama ‘pejuang malam’ berharap mengubah garis sebuah kehidupan. Penderitaan tidak membungkam, wajahnya tak melankolis sampai mengulurkan tangan jadi peminta-minta. Tidak ingin dikasihani, semangatnya menggelora tak pernah memberi kesempatan pada keputus-asaan tuk hinggap dihatinya. Hingga berakhirlah Si kelam, terbitlah harapan. Pagi pulang membawa segenggam uang, “Alhamdulillah,” yang terucap penuh syukur kepadaTuhan.

 

Bandung, 2019

 

 

– – – – – – –

 

Demikianlah kata yang ku temukan lewat inspirasi jalanan. 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Des 29, 2020, 3:43 AM - Anisa Shensen
Des 18, 2019, 2:41 PM - alfa el hanan
Des 18, 2019, 12:55 PM - Anisa Shensen
Des 17, 2019, 4:40 AM - Diajeng Utami
Des 16, 2019, 2:26 AM - Diajeng Utami
Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah