Menyikapi Kegemparan COVID-19

Corona 'bukan' hal baru. Secara fenomena, mungkin virus ini memang baru. Tapi benarkah 'benar-benar' baru? Saya bukan seorang ahli apapun. Tapi saya tahu persis kengerian Corona yang menyebar bak api yang menyala-nyala. 

Hei, sekali lagi saya bukan ahli apalagi ahli medis. Hanya saja, hampir sepuluh tahun menjadi tamu istimewa di banyak rumah sakit. Sampai bosan dan hampir saja memutuskan untuk tidak hadir dalam 'undangan' rutin.

Saya tahu persis perasaan penderita Corona dan lebih-lebih orang di sekitar penderita. Was-was dan ketakutan yang menggemparkan. Dalam tingkat tertentu, justru dia bisa mati karena cemas.

Ya. Saya ini seorang pasien. Cukuplah yang terakhir ini yang akan saya beritahu. Hampir 2 tahun lamanya harus dikarantina. Kabar baiknya, setelah setahun perawatan intensif, meskipun virusnya masih positif, tapi dia dalam keadaan pasif, 'lebih sulit' tapi masih bisa menular.

Memangnya apa yang saya ketahui? Ah iya. Bagi saya, Corona bukan barang baru. Selama setahun pertama saya 'diisolasi'. Hanya petugas medis dan orang tertentu yang bisa mendekat. Kerabat dilarang mendekat apalagi anak-anak. Sempurna berjauhan. Barang-barang sengaja dipisahkan dan diberi tanda. Menakutkan? Sangat. Dalam titik tertentu, saya pernah merasakan rasa ingin menyerah. Badan sangat payah seolah tidak mampu menahan rasa sakit. Belum dihantui puluhan obat perharinya selama bertahun-tahun. Lebih menderita dan lebih susah mati dibanding penderita Corona. Lebih tersiksa lahir dan batin. Karena bila penularan Corona lewat sentuhan, maka penyakit saya bisa menularkannya lewat udara selain dari sentuhan yang sama. Bisakah membayangkan ketakutan yang 'menghantui' saya dan orang-orang sekitar?

Setahun pertama semua orang enggan berdekatan. Yang mendekat harus memakai masker dan lekas cuci tangan. Jujur saja, saya pribadi merasa sangat tersinggung, merasa sebagai 'sumber' penyakit mematikan. Tapi saya berusaha mengerti dan tidak sakit hati. Ini semua demi kebaikan bersama.

Sungguh. Bukan maksud saya menyepelekan Corona. Saya sudah kenyang dengan bayangan rasa sakit dan kematian. Hanya saja, maksud saya menulis ini adalah sekedar 'berbagi' bagaimana sewajarnya kita bersikap menghadapi wabah mematikan ini. Karena saya prihatin melihat kegemparan di seluruh negeri, bahkan dunia. Bagi saya memang 'bukan' hal baru. Tapi selama kita patuh mengikuti instruksi medis dan pemerintah, insya Allah kita aman. Kalaupun terpapar, insya Allah bisa diobati dan memutus rantai mematikan ini meskipun harus lockdown.

Semoga wabah ini lekas mereda. Dan aktivitas kita bisa kembali seperti semula. Bagi saya -dan kaum muslimin- Corona ini adalah makhluk Allah juga. Maka sebaik-baiknya tempat meminta perlindungan adalah kepada Allah Ta'ala.

Saya berharap tulisan ini bisa mengurangi kegemparan tanpa berkurang rasa waspada dan ikhtiar kita.

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Tentang Penulis

Tempias Hati, yang tersisa dari air hujan.

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah