Puisi - Pemuda Naif dari Pinggiran Kota

Kau panggil aku wanita, ku jawab, kau pun seorang pria

Aku menjulurkan tangan, dan kau menggenggamnya erat

Kita pergi dari permulaan, benar-benar masih pemula

Cinta pertama, kita menyebutnya begitu

Tentang kehidupan, aku tak tahu ini, namun kau memberitahuku. Kau pun tak tahu itu, aku pun memberitahumu

Di waktu pagi, aku mulai mengingatmu. Hingga siang hari, aku mulai tahu, kau pun mengingatku sampai datang waktu malam, kita saling menjaga ingatan kita

Dari awal bulan, di pertengahan, hingga sampai pada akhirnya, terus begitu

Datanglah waktu kemarin, yang sudah lama tak ku kenang hari yang telah berlalu

Kau bilang ingin hidup dalam ketenangan, desa adalah impianku, katamu

Aku tersenyum, kau terlihat sedikit khawatir

Aku juga, menyukai ketenanganmu

Aku melirik wajahmu, tapi tidak di desamu, kataku

Kita terdiam, angin mulai memisahkan kita, tepat di celah antara rahang kita. Aku merasakannya

Bolehkah aku tinggal di sini saja?

Aku menatapmu, jauh dari ujung hatiku

Kau mengangguk, dan aku pulang hanya dengan diriku, katamu

Mata kita saling menatap meski hati kita mulai saling menjauh

Tiada alasan untukku melepaskan impianmu, kau juga, mungkin berpikir begitu

Terima kasih, kataku

Kau tersenyum, itu ingatan terakhirku tentangmu

Senang mendengar kalimat pamitmu, impianku yang lebih dulu kau sebut

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Feb 23, 2020, 1:58 AM - Alfiah khairiatul fikri
Feb 23, 2020, 1:53 AM - Nami Jaya
Feb 20, 2020, 6:17 PM - Fitri Indahyani
Feb 18, 2020, 4:35 PM - Fitri Indahyani
Feb 16, 2020, 2:49 PM - Nami Jaya
Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah