Cerpen - Perihal Bayang yang Menghilang

Deras. Hujan deras mengguyur salah satu kota di wilayah Jawa Tengah. Lantas, apa yang sedang dilakukan si gadis mungil di dekat jendela? Menopang dagu, menatap kosong. Entah berlari ke mana pikirannya. Setelah kejadian seminggu yang lalu, ketika seseorang yang dipercayainya dengan sangat, pada akhirnya berhianat. Seseorang yang selalu dinanti tetapi lebih memilih pergi. Gadis mungil yang mempunyai nama Lalita Dineshcara itu sering melamun. Tak banyak bicara. 

“Ta, Temanmu datang, Tuh!”

“Suruh masuk, Ma.” Sahut Lalita dengan suara seraknya.

Di ruang tamu, mamanya sangat berharap kepada Sasa, sahabat anaknya, agar Lalita  kembali bersemangat seperti biasanya. “Lalitanya ada di kamar, Sa. Tolong buat dia sembuh, ya? Tante udah bujukin dia, tapi sama sekali nggak mempan.” Ujar Nada dengan tatapan khawatir.

“Iya, Tante. Sasa bakal usahain,” Jawab Sasa sambil tersenyum, “yaudah, Sasa ke atas dulu ya, Tante.” 

“Iya, Sa. Tante ke belakang dulu, ya. Kalo haus ambil sendiri tuh di kulkas, ada es krim juga. Sasa kan suka es krim, apalagi bekasnya Lalita.”

“Yaelah, Tante ih! Nggak usah diperjelas segala kali,” Ucap Sasa merengut.

Sambil menaiki tangga, Sasa sudah menyiapkan omelan yang pantas buat Lalita. Enak saja dia membuat Tante Nada khawatir. Batin Sasa.

“Ta, Lo kok kayak gini, sih? Mata sembab, bibir pucat, mau mati Lo, hah?”

“Hm,” Jawab Lalita seadanya.

“Astagaa!! Emangnya dengan jawaban 'Hmm' Lo itu bisa bikin Tante nggak khawatir lagi sama Lo, gitu?” Geram Sasa. Entah apa yang membuat sahabatnya menjadi beku seperti ini. Yasa! Ya, siapa lagi kalau bukan laki-laki brengsek itu. Pikir Sasa.

“Berisik!”

“Bunuh gue aja, Ta! Bunuh gue! Gue nggak bisa Lo giniin!”

“Drama.”

“Yaelah, Ta. Gini amat lu sama gue.”

“Hm”

“Ta,”

“Hm”

“Ish! Kesel, gue. Lo diapain sama si brengsek Yasa, sih, kok Lo sampe bisa kayak gini? Kan nggak ada ceritanya seorang Lalita Dineshcara bisa murung gara-gara seorang cowok!” 

“Yasa nggak brengsek, Sa.” Gumam Lalita.

“Nggak brengsek, Lo bilang, hah? Terus apa yang tepat buat cowok seperti dia? Dia udah bikin Lo seperti ini, dan Lo masih mau belain dia? Pengen gue bunuh tuh orang, berani-beraninya dia-”

“Yasa nggak brengsek, Sa. Cuman rada pecundang doang, kok.” Potong Lalita.

“Bener juga, sih, Lo.” Cicit Sasa sambil ketawa-ketawa nggak jelas.

“Hm”

Suasananya berubah hening. Antara Sasa yang ragu membuat pertanyaan, dan Lalita masih asik dengan dunia lamunannya. Namun, Sasa paham, bahwa ia  harus membantu temannya keluar dari ruang rumit yang menjeratnya.

“Ta,”

“Hm” 

“Lo nggak mau bicara sama Yasa, gitu? Biar Lo bisa tenang, dan semuanya jelas.” Tanya Sasa ragu. Sasa tau, bicara perihal Yasa memang sensitif buat Lalita. Meskipun Yasa sudah beberapa kali menyakiti Lalita, tetapi sahabatnya itu tetep kekeuh bahwa dia tidak bisa membenci Yasa. Entah apa yang dipikirkan Lalita tentang Yasa.

“Buat apa, Sa?” Lalita menghembuskan nafas panjang, “buat apa bicara? Jika dia telah mendeklarasikan kepergiannya? Membengkalai cerita yang bahkan belum sempat dimulai. Gue tau, Sa, dia pergi dengan keputusan yang dia ambil sendiri. Dia pergi, selayaknya bayang yang kian menghilang ketika cahayanya telah redup. Lo tau, Sa? Kebahagiaan yang selama ini dia cari telah kembali. Sinar cerah yang dinanti-nanti telah datang menghampiri. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan itu, kan?” Lanjut Lalita.

“Tapi-“

“Sudah lah, gue nggak pa-pa, Sa. Yasa nggak salah, salah gue saja yang dengan gampangnya percaya sama dia. Seharusnya gue bertanya dahulu, apakah dia membuka cerita baru, atau melanjutkan cerita lama yang masih menjadikan sosok itu sebagai tokoh utama, dan menjadikan gue tokoh pengganti saja. Lantas, gue bisa apa, Sa? Tokoh pengganti hanya sebagai pemanis cerita saja, kan?” Sela Lalita.

“Tapi Lo nggak seharusnya seperti ini, Ta. Nggak seharusnya Lo ngurung diri di kamar” sanggah Sasa memelas.

Lalita ingin sekali ketawa sekencang-kencangnya, tapi berhubung keadaannya seperti ini, dia hanya menahannya saja. Dia mengambil kaca kecil dan dihadapkan ke wajah Sasa.

“Apaan sih Lo, Ta!!” Sasa kesel dengan ulah Lalita yang masih bisa usil di atas kekhawatirannya. “Lo tuh, ya. Lo nggak tau apa seberapa khawatirnya gue ngeliat Lo kayak gini? Dan dengan seenaknya lo senyum-senyum nggak punya dosa di depan gue, hah?”

Tawa Lalita pecah, “Coba deh, Sa. Lo ngaca. Muka Lo tuh ada burik-burik nya tau nggak, kalo lagi khawatir kayak gitu.”

“Kurang ajar Lo, ya!!” Meskipun kesel, tapi Sasa senang Lalita nggak murung lagi.

“Sa, Lo tau nggak, kenapa gue seharian ngurung diri di kamar?”

“Nggak bisa move-on sama Yasa, kan?” Jawab Sasa asal, sambil makan sisa kuaci di lantai.

“Enak aja Lo!! Yakali seorang Lalita Dineshcara nggak bisa move-on!”

“Trus?” Tanya Sasa yang lebih fokus dengan gigitin kuacinya.

“Lagi dapet aj-“

“Anjir Lo, Ta. Ternyata ini alasan Lo nggak mau keluar kamar? Gue udah bela-belain dateng ke sini sambil bawa payung baru, dan ternyata Lo nggak pa-pa? Kasian noh payung polkadot gue yang gue tinggalin di depan rumah lo sendirian, ntar kalo di ambil orang giman-“

BUKK!!

Timpukan bantal mendarat sempurna di wajah Sasa. “-na” 

Wajah Sasa berubah masam, bukan karena timpukan Lalita, tapi dia lebih kasihan sama kuaci yang belom sepenuhnya dia makan, “Kebangetan Lo, Ta”

“Crewet, Sih!”
 

***

“Ta,”

Duh! Ngapain sih, dia ke sini,. Batin Lalita.

“Gue minta maaf”

Sebenarnya, Lalita sangat tidak ingin bertemu dengan Yasa lagi. Namun, semesta berkata lain. Buktinya mereka duduk berdua, ya meskipun kayak orang asing. Eh, tunggu, Memang sudah berubah menjadi asing, bukan? 

Seketika konsentrasi baca Lalita buyar. Taman yang menenangkan berubah mencekam. Seperti halnya perasaannya yang tidak bisa ia bendung sedikit pun.  Ya.. Lalita masih merasakan desingan aneh jika melihat sosok Yasa Pradipta, seseorang yang dengan mudah mengombang-ambingkan hatinya.

“Buat?” tanpa mengalihkan tatapannya dari buku, Lalita menjawab dengan malas.

“Maafin gue, Ta. Gue tau, gue salah. Tapi gue nggak bisa balik sama Lo, gue udah nggak punya rasa apa-apa lagi sama Lo, Ta. Gue minta maaf, nggak seharusnya gue giniin Lo.”

Lalita tertegun, menahan bendungan air  mata yang dengan seenaknya luruh begitu saja. “Lo tau, yang Lo lakuin ke gue itu salah. Tapi kenapa Lo masih perlakukan gue kayak gini, Yas? Lo nggak usah minta maaf sama gue, gue udah maafin Lo. Tapi gue mohon, jangan sekali-kali Lo ngeliatin muka kusam Lo itu di depan gue! Gue nggak butuh rasa kahisan dari Lo. Sekarang, tolong, jangan ganggu gue.” Geram Lalita.

“Ta-“

“Udah, Yas. Nggak pa-pa. Ini memang pelajaran buat gue, agar gue nggak sembarangan naruh perasaan. Masalah hati memang sensitif, Yas, salah letak bisa retak. Dan asal Lo tau, terkadang ada hal yang hanya bisa di 'ya-udah-in' aja. Sebab, untuk apa menyesali sesuatu yang memang tidak bisa diperbaiki? Nggak ada gunanya, kan? Lo itu seperti bayangan, Yas, yang pergi ketika cahayanya mulai redup, yang menghilang jika ada kegelapan. Dan gue nggak suka sifat Lo yang itu, Yas.” Ucap Lalita dan melengang pergi. 

Di lain sisi, Yasa terdiam, merenung, memahami setiap kalimat yang terucap dari bibir mungil Lalita.


***


“Ma,”

“Eh, anak Mama udah pulang, dari mana, Ta? Makan dulu, gih. Mama udah siapin sambel terong kesukaan kamu,” Begitulah Nada memperlakukan anak semata wayangnya. “Loh, kok habis nangis? Kamu kenapa, Nak?” Lanjut Nada khawatir.

“Ah, nggak pa-pa kok, Ma. Tadi habis baca aja, di taman. Trus baper deh sama novelnya,” Jawab Lalita berbohong. “Oh ya, Ma, makannya ntaran aja, ya. Lalita mau ke kamar dulu soalnya” 

“Iya sayang, jangan ketiduran loh, udah sore, pamali.”

“Siap, bu bos!!”

Ada-ada aja Kamu Ta, guman Nada.


***

Lalita merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamar. Pikirannya kembali saat kejadian sore tadi, saat di mana Yasa meminta maaf tanpa tampang bersalah. Tentu saja Lalita sangat muak. Bisa-bisanya dia menaruh hati pada seorang pengecut seperti Yasa. Namun, ini bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, setiap orang pasti menganggap benar dirinya sendiri, terlebih masalah hati. Padahal, mungkin, jika mereka berdua berani meluruskan masalahnya, mereka pasti menemukan benang perdamaian, meskipun mereka memilih pisah, tetapi tidak lagi saling salah.

Lalita memejamkan matanya, bukan untuk tidur, tetapi untuk menenangkan hati dan pikirannya. Setelah kejadian itu, Lalita sadar, bahwa dia memang seharusnya menerima rasa sakit dari semesta. Bukan karena semesta tidak berpihak kepadanya. Namun, lebih tepatnya, kejadian ini adalah salah satu jalan yang mendewasakan. Lalita harus tau, bahwa rasa sakit yang diobati sendiri, suatu saat akan menjadikannya lebih kokoh. 

Semesta, terimakasih telah mendatangkan luka. Adanya luka memang wajar kan, semesta? Seseorang terluka bukan karena ia lemah, tetapi luka datang untuk menguatkan. Menjadikanku lebih kokoh. Begitulah keyakinan Lalita.

Lalita membuka matanya, lalu berjalan ke arah jendela. Menutupnya. Bersamaan dengan menutup cerita yang telah usai.


Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Jan 23, 2020, 4:04 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 16, 2020, 11:57 PM - ulfah aminatun
Jan 16, 2020, 2:31 PM - Lintang Dyah Puspita
Jan 15, 2020, 2:31 PM - Lilis Juwita
Tentang Penulis

Sesosok Puan yang terjangkit penyakit Diksi

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah