Cerita fiksi - Rasa, Perasaan dan Cinta

Rasa itu muncul dari tatapan yang terlihat penuh makna, penafsiran demi penafsiran menyisakan tanda tanya, bisakah rasa itu hilang? Perasaan yang peka akan tatapan dan perkataan, menimbulkan sebuah ambiguitas. Apakah ini berlebihan? Bagi sebagian orang itu mungkin hal yang wajar, karena kita tak bisa memilih ingin menaruh perasaan dan rasa terhadap siapa. Perasaan yang muncul akibat menaruh rasa, hal itu akan seimbang jika diiringi dengan cinta. Apakah aku sudah sejauh itu? Tentu saja, belum.

Bagiku untuk mencintai seseorang tak semudah itu, semua butuh proses tergantung usaha kedua belah pihak untuk meraihnya, aku bisa berusaha namun hal itu mustahil jika kau tidak menganggap keberadaanku. Aku tau tuhan maha membolak-balikan hati manusia, aku berharap tuhan membalikkan hatimu. Aku berharap kau merasa hal yang sama, semua terasa indah jika keduanya saling menyadari, bukankah begitu hakikat sebuah cinta? Cinta yang murni dan muncul dengan sendirinya, aku berharap semua menjadi nyata bukan hanya harapan dan imajinasiku semata. Aku tak tau apa yang kamu rasa, karena aku tak bisa melihatnya. Apakah dengan saling memantau rasa kita akan terpelihara? bisa saja,  semoga. Aku yakin kamu pribadi yang tangguh, apapun keputusanmu pasti kamu telah mempertimbangkan dengan baik, kalaupun aku tak masuk dalam pertimbangan, aku berharap kamu bahagia dengan mendapat yang terbaik. Cinta itu tidak muncul dengan sendirinya, ada alasan yang cukup kuat untuk mendasarinya, ada rasa dan perasaan yang harus melengkapinya.    

“Aku boleh berharap? Semoga iya dan aku berharap semoga aku yang mengisi ruangmu”

Aku termenung duduk di pojok ruangan ruang tamu, aku memikirkan tentang masa depan, sungguh rumit, tak semudah yang diceritakan orang-orang. Mereka bilang kita akan bertemu dengan orang yang tepat disaat yang tepat. Tak sesederhana itu bray, tak mudah menjalani hari-hari sendirian. Kesana kemari sendirian, mengurusi hal-hal yang bersifat duniawi. Apakah ini hanya sebatas kepentingan? Sebatas kenal dan penting, jika semuanya telah selesai jelas saja akan berakhir. Sungguh pelik memang dunia ini, aku tak mengerti lagi. Berdua menjadi orang baik dan setiap saat selalu tersenyum, namun nyatanya tak semudah itu. Senyuman tak menggambarkan keadaan, karena dengan senyuman aku lupa bagaimana rasanya sakit. Sedih memang, karena usaha yang kita lakukan belum tentu akan dibalas dengan hal yang sama oleh orang lain.

Entahlah semakin kesini aku semakin ragu, ragu untuk menjaga rasa itu. Maafkan aku tak memiliki bukti yang kuat untuk mempertahankan, karena  sikapmu tak menunjukkan apa-apa. Insyaallah jika kita berjodoh, rasa itu akan  menguat dan saling menguatkan, semoga pertemanan kita akan terus berlanjut. Ditengah dinginnya malam aku berharap ini bukan akhir dari semuanya, namun ini adalah awal, awal dari perjuangan untuk saling memperjuangkan. Ketahuilan aku disini, menunggu mu untuk berusaha bersama melawan kerasnya dunia

Setiap penantian pasti ada ujungnya, begitu juga dengan penantianku. Aku yakin jika kau bukan orang yang tepat, insyaallah ada yang lebih tepat. Aku tak pernah menyesal mengenalmu, karena kau aku mengenal bagaimana tipe laki-laki. Kau memang pria yang baik, sangat baik bahkan hanya saja aku belum bisa mengimbangimu. Karena gerak-gerik mu menunjukkan bahwa tak ada yang spesial untukku, bagaimana aku bisa menilai? Clue-clue yang kau berikan mungkin saja untuk orang lain, bukan untukku. Mungkin saja kamu memang pantas untuk orang lain, karena wujud nyata dari sebuah rasa adalah saling mendoakan agar keduanya saling bahagia.

Ikhlas dan sabar adalah bentuk dari sebuah penantian, jangan pernah lelah karena ada seseorang yang sedang berjuang untukmu di luar sana, kita tak pernah tau siapa dia. Tapi yang jelas kita sama-sama sedang berusaha untuk mencapai mimpi satu sama lain atau kita bertemu dijalan yang sama, saat kita sedang memperjuangkan sebuah mimpi. Aku tau aku lelah, tapi lelah-ku akan selalu terhibur dengan tawa, kita tak pernah tau bagaimana perasaan seseorang terhadap kita, yang kita tau hanyalah bagaimana kita bisa mengendalikan sebuah rasa dihadapan satu sama lain. Tak ada yang salah dari sebuah rasa, karena aku tak ingin semuanya berakhir dengan sikap "canggung" satu sama lain, seperti yang dulu kala. Rasa hanyalah penguji dari sebuah hubungan pertemanan, apakah rasa itu akan berkembang atau malah kadarnya semakin menurun? Itu tergantung sikap satu sama lain, saat ini aku berpikir lebih baik kita memperhatikan diri masing-masing, daripada menanti sebuah harapan yang tak berujung.

"Sabar adalah kunci untuk bertemu orang-orang baik,

Kau menginginkan seseorang yang baik bukan?

Maka bersabarlah."

 

Aku melihat teman-temanku, mereka tengah bahagia dengan pasangannya, membangun usaha bersama dan saling melengkapi satu sama lain. Satu pertanyaanku “Apakah aku bisa seperti mereka?” entahlah, aku yakin pasti suatu saat nanti. Aku tak bisa memaksa keinginan dan passion-mu agar sama sepertiku, yang ku inginkan adalah kita menjadi diri masing-masing. Satu alasan yang membuatku bertahan dalam kesendirian adalah diriku masih terlalu buruk untuk kau yang terlalu baik, aku belum bisa membedakan sikapmu yang serius atau hanya sekedar main-main. Aku percaya kau bisa dan pasti berhasil dengan kemampuan yang kau miliki, kau spesial dan tak ada duanya.

Jangan menyamakan dirimu dengan yang lain, karena aku tau dirimu berbeda “you’re talented and unique”. Jangan tiru diriku yang terlalu lemah dan hampir mengatakan kata “menyerah” pada keadaan, keadaan yang selalu mengingatkanku pada sebuah tuntutan. Tuntutan kehidupan yang menurutku tidak semua orang bisa melaluinya, seringkali aku merasa berada di ambang batas. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik di sekelilingku, termasuk kamu. Aku sangat berterimakasih pada kalian yang selalu ada untuk mendengarkan cerita dan kebimbanganku, karena sejatinya esensi dalam bercerita adalah mendengar dan didengarkan bukan untuk diperbandingkan apalagi disanggah. Aku berharap kau bisa menemukan, menemukan jati dirimu, begitu juga denganku. “aku bisa menjadi aku, bukan dia apalagi yang lain”. Maafkan aku yang cengeng, aku berharap kamu bisa lebih kuat untuk menjalani kehidupan yang keras ini.

“Kita memang berbeda, aku berharap kita berada pada jalan yang sama dan mengarunginya bersama”

 

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Jan 23, 2020, 4:04 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 16, 2020, 11:57 PM - ulfah aminatun
Jan 16, 2020, 2:31 PM - Lintang Dyah Puspita
Jan 15, 2020, 2:31 PM - Lilis Juwita
Tentang Penulis
Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah