Saling Bunuh Atas Nama Bola

Lagi..lagi..dan lagi,kejadian tercela,tak beretika,bahkan jauh dari logika terulang kembali dalam ekosistem sepakbola nasional Indonesia.Wajah kusut,buram,miskinnya prestasi sepakbola nasional seakan belum cukup lengkap tanpa rusuhnya suporter bola Indonesia.

Selasa,18/02/2020,dua tim ikonik sepakbola Jawa Timur dan Nasional, Arema FC dan Persebaya kembali bertemu di babak semi final dalam rangka turnamen pra musim Piala Gubernur Jawa Timur.Rupanya pihak panitia telah mengantisipasi segala resiko dengan memilih Stadion Supriadi Kota Blitar untuk menggelar pertandingan bergengsi tersebut,yang notabebe adalah stadion netral dari ke 2 pendukung tim tersebut serta embel-embel pertandingan tanpa penonton.Pertandingan itu disiarkan langsung oleh salah satu tv swasta nasional.

Namun apa daya,justru Kota Blitar sendiri akhirnya kedatangan tamu dari pendukung Arema dan Persebaya.Dan yang dihindari pun akhirnya terjadi,rusuh masal ke 2 suporter tak dapat dihindarkan,aksi tawuran,pembakaran,perusakan,penjarahan pun terjadi.Banyak dari mereka yang menjarah makanan dan minuman,beberapa sepeda motor terbakar,lahan persawahan rusak dijadikan tempat tawuran,beberapa korban luka terkena lemparan saat pecah tawuran.

Entah siapa yang salah,siapa pula yang keliru,adakah yang diuntungkan dengan kejadian ini???Seakan mereka lupa,dimanapun keduanya bertemu,faktor kerusuhan sulit dihindarkan,jadi apakah ini sebuah tradisi baru bagi komunitas suporter ke duanya???Haruskah ada jiwa melayang lagi sebagai tumbal kebanggaan semu mereka???Masih perlukah episode saling bunuh atas nama bola ini kita saksikan???

Permasalahan ini sebenarnya sudah timbul 25-30 tahun yang lalu,rivalitas sepakbola yang berujung pada adu ego,idealisme,sosial dan adu otot pada akhirnya.Entah berapa jiwa melayang mewarnai kelam perjalanan rivalitas keduanya.Mereka mewarisi tradisi rivalitas kotor tanpa mereka sadari,sehingga sampai anak-anak pun seakan sudah teregenerasi menjadi bagian dari budaya itu.

Penyelesaian masalah seperti ini, terutama suporter Arema dan Persebaya perlu pengkajian lebih dalam lagi pada sisi histori,sosial budaya masing-masing daerah.Perlu adanya rekayasa akulturasi budaya dalam lingkup pendidikan dan sepakbola khususnya Malang dan Surabaya.Sebuah rekayasa yang tanpa mereka tahu dan sadari menggugah hati mereka untuk saling berjabat tangan kembali.Pemerintah perlu lebih melebarkan tangan dan wawasan serta bergerak pada saat yang tepat secara komprehensif,natural dan dinamis agar permasalahan ini tidak berlarut.

Tak tahukah mereka??? Saat 10 november 1945, kakek/buyut mereka bahu membahu memanggul senjata bersama-sama melawan sekutu di Surabaya??Tak tahukah mereka Laskar Sabillilah yang berpusat di Malang waktu itu,membantu dan berjuang bersama saudara-saudara sebangsa mereka di Surabaya???Mereka rela berperang dan mati demi saudara-saudara mereka.Lalu...kenapa sekarang mereka saling "bunuh" atas nama sepakbola???

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Tentang Penulis

Pedagang makanan,berumah tangga,home city malang,seneng bgt nulis kesusastraan,puisi khususnya..pernah jadi guru privat untuk anak SD,pernah kerja jd admin..nginput data proyek..nyoba nulis artikel mg cocok dgn style saya

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah