Tulisan Usang di Sebuah Buku Catatan

Aku pernah begitu menginginkanmu ternyata. Tiada hari tanpa memuja dan mengkhayalkanmu. Berkhayal menghabiskan waktu bersamamu setiap hari, bercanda, tertawa, dan menjadi kekasihmu. Ah! Aku terkekeh sendiri membaca tulisan-tulisan bernadakan pengharapan cinta yang besar, cemburu-cemburu yang tidak jelas, juga rasa bahagia karena berhasil mengobrol denganmu meski hanya hitungan kejap. Ya, berdua denganmu tidak akan pernah cukup waktu bagiku. Sekiranya bagimu, barang lima menit saja membosankan. 

Membaca kembali buku catatan yang kutemukan di tumpukan kardus, seperti diingatkan kembali bahwa pada masa itu, aku pernah menjadi budak cinta. Lucu, sekaligus membuat hatiku menciut. Kita pernah serekat itu, lantas berjarak karena satu hal.

Tapi nyatanya, sampai detik dimana buku catatan kusam ini berada di genggamanku, perasaaan yang pernah kutuangkan dalam bentuk puisi maupun curhatan terselubung di dalam buku catatan ini, tiba-tiba saja bereaksi. Bergejolak seperti ada yang menarikku untuk menilik kembali sepotong kenangan. Bernostalgia.

Kamu, apa kabar? Merindukanmu apakah diperbolehkan? Jika tidak, tentu saja aku akan memaksamu. Eh, maaf bercanda. Tentu saja aku tidak punya hak apa-apa atas dirimu. Siapa aku? Cuma perempuan yang pernah bersahabat denganmu, lalu terputus oleh seseorang lainnya.

Lembar demi lembar telah tuntas kubaca. Di halaman terakhir pada buku catatan ini, ingatanku membenarkan, apa yang menjadikan kita demikian berjarak hingga kini. Aku tidak tahu, apakah kamu juga mengingatnya atau justru hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting bagimu, maka dari itu kamu tidak menyimpannya dalam ingatanmu. Aku mau membacakannya untukmu. Semoga tidak keliru dan kamu berkenan.

Panas sekali siang ini. Aku tidak tahu, apakah cuaca atau drama di depan mata yang membuatku begitu gerah. Kamu benar-benar, ya! Tidak pernah menoleh ke arahku lagi. Hmmm, jangankan menoleh, menyadari keberadaanku saja, tidak. Aku yang terlalu menggebu ingin memilikimu. Sampai kemudian, aku kelelahan sendiri. Bukan, bukan aku menyerah untuk perasaanku, aku hanya mencoba sadar diri saja. Kamu tidak bisa kumiliki. Aku tidak layak bersanding denganmu. Dia lebih dari segalanya di atasku. Ah, sudahlah. Nasib ialah pelukan masing-masing. 

Gerbang Sekolah, Februari 2012.
Melihat punggungmu yang menjauh.

Hahaha. Aku pernah se-tidak-percaya-diri begitu.

Di lembar lainnya, aku menuliskan satu cerita yang menggembirakan. Sederhana sekali. Tetapi, membuatku senyum-senyum sendiri ketika sekarang ini kubaca lagi. 

Hai, kamu menoleh ke arahku. Melempar senyum dengan tatapan yang hangat. Membuat napasku menjadi tak karuan. Kamu kena angin apa, hah?! Sering-sering dong bersikap manis kayak tadi. Hehe. Kamu rindu, ya? Hmmm, semoga Tuhan mendengar keinginanku, ya! Kita bisa lekat lagi kayak dulu.

Kantin, jam kosong, April 2012.

Baca juga : Jika suka maka doakanlah! biarkan allah yang mengatur semuanya

Kurasa, aku benar-benar gila karenamu.

Hei, kamu apa kabar? Sudilah kiranya kamu membalas pesan yang sedang kuketik ini, lalu berulang kali kuhapus dan kuketik lagi, sampai aku benar-benar siap menyapamu kembali. Nanti, ya.
Nanti yang entah kapan. Ehe.

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Feb 23, 2020, 1:58 AM - Alfiah khairiatul fikri
Feb 23, 2020, 1:53 AM - Nami Jaya
Feb 20, 2020, 6:17 PM - Fitri Indahyani
Feb 18, 2020, 4:35 PM - Fitri Indahyani
Feb 16, 2020, 2:49 PM - Nami Jaya
Tentang Penulis

Suka mendadak 'habis batre' | Penikmat kopi sachetan | Menulis dan mengenang

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah