Cerita fiksi - Wanita di bawah Payung Hitam

Jika kau bertanya apakah aku percaya tentang kutukan? Maka aku akan menjawab “Ya,”. Aku tahu semua ini memang gila dan tak bisa dinalar dengan logika manusia biasa. Tentang sihir, hantu, jin atau dukun sebenarnya aku bukanlah orang yang tertarik dengan hal-hal mistis seperti itu, namun ada suatu hal yang mendorongku untuk mengenalnya. Namun aku tak tahu ini adalah cerita tentang semacam itu atau bukan.

Semua berawal dari suatu sore, saat turun hujan. Seperti biasa aku berjalan-jalan sekedar mencari lauk dengan harga sekelas anak kos. Tiba-tiba saja hujan bertambah deras, dengan modal nekat tanpa membawa payung ataupun jas hujan akhirnya aku menyerah dan berteduh di sebuah rumah. Kuperhatikan secara seksama kondisi rumah dengan cat hijau yang mulai luntur itu. Kayu-kayu sebagai pondasi yang seakan tak mampu menopang kembali rumah itu. Seketika mataku tertuju pada seorang wanita yang berteduh disampingku. Wanita itu mengenakan baju hitam dan membawa payung hitam lebar sheingga wajahnya tertutupi.

 

“Neng, mau kemana? Hujan-hujan kok keluar rumah?” aku memulai percakapan dengannya.

 Dia tak membalas pertanyaanku atau sekedar melihat diriku.

 “Neng, neng kos disini?” tanyaku sekali lagi.

 Dia masih diam tanpa melihatku.

“Nama Neng siapa?” tanyaku terakhir kali. Sungguh jika dia tak menjawab juga aku akan mengakhiri percakapan monolog yang konyol ini.

“Ningsih,” jawabnya lirih. Hujan berhenti seketika wanita itu mengatakan namanya. “Bayu,” sahutku singkat.

            “Jadi, Neng ningsih juga kos di sekitar sini?” kataku lirih.

            “Ya,” jawabnya singkat.

 

            Hujan sudah benar-benar berhenti, dia beranjak untuk pergi, ditutupnya payung hitam itu. Kini terlihat wajah ayu dengan kulit kuning langsat. Wajah khas gadis desa. Aku tak bisa berhenti memandangi manis raut wajah ayu itu. Tanpa pamit dia meninggalkanku yang masih tak berkedip memandanginya.

            “Bodoh, seharusnya aku mencari tahu alamatnya, atau meminta nomor teleponnya.”

Kemudian aku pergi melanjutkan perjalananku.

            Sepertinya wanita itu memang tinggal atau kos disekitar sini. Dia hanya mengenakan baju hitam dan membawa payung. Dia bahkan tak membawa kendaraan, berarti benar dia tinggal disini. Setelah hujan reda dia langsung pergi berjalan saja tak ada yang menjemputnya. Berarti harapan aku bisa bertemu dengannya lagi sangatlah besar. Aku harus bertemu dengannya lagi. Semenjak pertemuan itu ada rasa yang bergejolak di hatiku. Aku rasa aku telah menaruh hati padanya.

            Setiap malam dengan jam yang sama aku keluar kos untuk sekedar berharap berpapasan dengannya. Memang harapan yang tak bisa dipastikan. Aku telah melalui dua malam menunggunya, namun dia tak datang. Hingga malam ketiga dia muncul dihadapanku.

 

            “Tidak hujan kenapa Mas diam disini?” dia memulai percakapan.

            “Ningsih.” Aku memandanginya.

“Ya ini aku, Mas Bayu kan? Yang kemarin berteduh disini?” rupanya dia mengingat namaku.

            “Aku menunggumu,” kataku.

            “Menungguku? Untuk apa?” dia menundukkan mukanya.

            “Aku ingin berkenalan denganmu Ningsih.”

            “Kau serius denganku?”

            “Ya,” jawabku spontan tanpa pikir panjang.

            “Datanglah kesini lagi Mas Jum’at malam.”

            “Baiklah aku akan datang.”

 

            Kemudian dia pergi dari mataku. Bukankah ini perkembangan yang baik. Dia mengajakku bertemu Jum’at malam disini. Hatiku benar-benar bermekaran mengalahkan taman kota Malang yang indah itu. Hanya saja yang membuatku bertanya-tanya mengapa dia mengajakku bertemu disini? Mengapa tidak di cafe-cafe atau restauran mahal? Aku rasa Kota Malang memiliki semuanya. Mungkin dia adalah gadis yang sederhana dan tidak suka menghambur-hamburkan uang. Bagaimana jika aku saja yang mentraktirnya? Pikiranku benar-benar melayang untuk mempersiapkan kencanku dengan Ningsih hari Jum’at ini.

 “Penyakitmu tidak kumat kan Le?” Ibuku tiba-tiba saja menjengukku di kos.

“Tidak Ibu aku bahkan sangat sehat.” Aku tersenyum dengan orang yang sudah melahirkanku ini.

“Sungguh Ibu sangat khawatir padamu, kau memang terlihat sehat tapi,, ah, sudahlah melihat dirimu yang seperti ini Ibu sudah tenang.”

“Ibu tak usah khawatirkan aku ya, aku sudah dewasa dan tahu mana yang baik atau buruk untukku sendiri.”

 “Baiklah Le, ibu percaya padamu, baiklah.”

“Ibu, sepertinya saat aku lulus tahun ini aku sekaligus membawakan Ibu menantu.” Aku penuh dengan kepercayaan diri.

            “Thole Bayu, kamu tidak sedang bercanda kan? Fokuslah dulu ke sekolahmu.”

            “Sungguh aku tak berbohong Ibu doakan aku saja.” Kemudian ibu pulang setelah memastikan kondisiku yang baik-baik saja. Selasa telah berganti Rabu, bahkan Rabu telah berganti Kamis dan besok adalah hari yang kutunggu-tunggu, aku akan bertemu dengannya. Kupersiapkan semuanya, sengaja kupesankan  bunga mawar merah dan sekaligus mengutarakan niat baikku padanya. Hari Jum’atpun tiba. Aku sudah siap bertemu Ningsih dengan baju yang rapi. Rumah tua itu akan menjadi saksi cintaku dengan Ningsih. Aku tersenyum bahagia. Dengan menenteng bunga mawar yang harum aku menunggunya ditempat biasa. Tubuhku bergetar hebat apakah ini yang dikatakan orang-orang efek sedang dilanda jatuh cinta? Aku sungguh baru mengalaminya setelah mati rasa akan cinta yang kandas tahun lalu dengan Dian mantan kekasihku. Ah,, mengapa aku memikirkan mantan kekasihku bukankah sekarang aku sedang menunggu masa depanku? Pikiranku kemana-mana. Kakiku bergetar hebat tatkala Ningsih datang dengan payung hitamnya. Padahal cuaca sangatlah cerah namun aku tak memperdulikan wanita itu berjalan dengan payung yang menutupi wajahnya.

 

            “Kau menungguku lama?”

            “Tidak juga.” Aku tersenyum padanya.

            “Maafkan aku, aku hanya sedang menunggu datangnya bulan purnama.”

            “Kau menyukai bulan purnama?”

            “Ya,” jawabnya singkat.

            “Kenapa kau memaki payung? Bukankah hari ini tidak turun hujan?”

            “Aku hanya malu melihatmu.”

            “Kau tak usah malu melihatku, tutuplah payungmu dan tataplah diriku.”

            “Tidak, nanti saja saat bulan benar-benar bulat.”

            “Tapi aku ingin melihatmu sekarang.”

            “Bersabarlah sedikit lagi.”

 

            Kutarik payung yang menutupi wajahnya. Seketika jantungku berhenti berdetak.

Wajahnya hancur tak beraturan. Apakah aku sedang bermimpi, Ningsih? Dia kenapa?

 

            “Kenapa Mas? Mas Bayu takut denganku? Ini adalah wujud asliku.”

            “Kau? Kau hantu?” kemudian aku berlari meninggalkannya.

 

            Sungguh tak bisa kupercaya hampir saja aku mengikat janji dengan hantu itu. Tapi bagaimana jika dia terus menghantuiku? Ku lihat kebelakang berkali-kali memastikannya tak mengikutiku. Hingga akhirnya yang kulihat hanyalah gelap,,, gelap,,, dan gelap.

            Setelah kubuka mataku aku berada disebuah tempat yang serba putih. Di sana terlihat orang yang meronta-ronta dengan tangan yang diikat. Aku dimana? Apakah aku sudah sampai di neraka duluan? Tapi tunggu aku tidak sedang di neraka. Aku mendengar Ibuku menangis histeris diluar. Aku ingin menemuinya tapi tanganku diikat juga. Aku kenapa?

 

            “Kondisi anak Ibu sangat memprihatinkan, dia bisa saja berimajinasi diluar akal sehat manusia,” kata Dokter.

            “Lalu bagaimana Dok? Apakah dia bisa sembuh?” Ibuku masih terisak.

            “Saya tidak yakin Ibu, namun dia harus dirawat disini terlebih dahulu.”

 Baca juga : Cerita fiksi aku, kamu dan dia

            Tiba-tiba saja Ningsih datang dengan membawa suntik berisi cairan penenang. Wajahnya sangat serius sementara aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku terlelap. Wanita di bawah Payung Hitam dan rumah tua itu tak pernah ada. Yang ada adalah suster cantik yang bernama Ningsih yang selama ini aku kagumi. Kadangkala dia terlihat menyeramkan saat menyuntikkan obat penenang padaku. Benar kata Dokter itu bahwa aku bisa saja berimajinasi diluar akal sehatku. Bukan hantu, kutukan atau sihir. Yang jelas aku adalah pasien rumah sakit jiwa. HAHAHAHAHA

TAMAT

 

Menikmati artikel ini? Tetap terinformasi dengan bergabung buletin kami!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Jan 23, 2020, 4:04 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Jan 16, 2020, 11:57 PM - ulfah aminatun
Jan 16, 2020, 2:31 PM - Lintang Dyah Puspita
Jan 15, 2020, 2:31 PM - Lilis Juwita
Tentang Penulis

Menulislah selagi kau hidup

Artikel Populer
Des 17, 2019, 7:00 PM - Arini Rahmatia
Jan 18, 2020, 12:29 PM - Nurul Khomsin Amaliyyah
Des 19, 2019, 12:20 AM - Nurul Khomsin Amaliyyah